Bab 215

2925 Words

ALVANO masih duduk di sofa panjang kafe itu, bersama tiga temannya yang sedang tertawa-tawa membahas permainan game online yang baru mereka coba. Musik kafe tidak terlalu keras, lampunya temaram, dan aroma kopi bercampur dengan wangi roti panggang memenuhi udara. Alvano sebenarnya tidak begitu fokus. Setiap beberapa menit, dia membuka ponselnya untuk memastikan Clara sudah benar-benar sampai rumah, padahal gadis itu sudah mengirim pesan tadi. Lalu semuanya buyar. Saat dia sedang meraih gelas es kopinya, seseorang tiba-tiba menarik perhatiannya. Sebelum sempat menoleh, lengan ramping seseorang melingkar di lehernya, lalu tubuh perempuan itu menubruk ke arahnya dengan suara manja yang terlalu familiar. “Vanooo… akhirnya ketemu lagi.” Alvano membeku. Detik itu, seluruh kafe seakan berhen

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD