Sarah membuka pintu kamar Alvano perlahan. Matahari bahkan belum naik sepenuhnya, langit masih kebiruan pucat ketika ia mendekat ke ranjang putranya. Alvano tidur miring dengan selimut yang tersampir setengah, rambutnya berantakan, dan wajahnya masih menyimpan sisa senyum yang entah tercipta karena mimpi apa. Atau… lebih tepatnya, karena siapa. “Van…” Sarah menepuk bahunya pelan. “Bangun, sayang.” Alvano mengerang kecil, memeluk bantal. “Lima menit lagi, Ma…” Sarah terkekeh. “Kamu masih mau ikut Papa ke kantor gak? Masih semangat belajar bisnis gak?” Mata Alvano langsung terbuka. Ia bangun secepat kilat. “Iya! Mau! Banget!” Sarah hampir tertawa melihat transformasi instan itu. “Baru Mama sebut ‘bisnis’, langsung bangun.” “Aku serius, Ma,” ujar Alvano sambil duduk dan mengucek matany

