Sarah menatap Nadine tanpa sedikit pun belas kasihan. Gudang tua yang pengap itu hanya diterangi satu lampu redup yang bergoyang pelan, menambah tekanan mencekik di udara. Nadine yang sejak tadi menangis dan meronta mulai kehilangan kekuatannya. Sarah berdiri tepat di depan gadis itu dengan ekspresi dingin yang tak pernah ditunjukkannya pada siapa pun selain musuh. “Dengarkan aku baik-baik,” ucap Sarah pelan namun tiap katanya seperti pisau yang menggores leher. Nadine hanya bisa menelan ludah, tubuhnya gemetar. “Aku sudah cukup sabar dengan semua tingkah gilamu. Mengaku hamil anak Alvano, memaksa balikkan, mengancam, dan sekarang menyewa preman untuk mencelakai Clara? Kau sudah melewati batas.” Nadine refleks mundur, namun kakinya terantuk kardus dan dia jatuh terduduk. “A-aku… aku cuma

