Pagi itu cahaya matahari masuk perlahan dari celah gorden, menyingkap suasana kamar yang semalam penuh kekhawatiran. Sarah membuka matanya lebih dulu, tubuhnya masih terasa lelah karena semalaman hampir tidak tidur, tetapi hatinya dipenuhi rasa lega. Ia meraba kening Alvano dengan hati-hati, lalu menghela napas penuh rasa syukur. Panas itu sudah tidak setinggi kemarin, bahkan bisa dibilang berangsur hilang. Alvano masih tidur pulas di sampingnya, wajahnya terlihat jauh lebih tenang. Sarah menatap putranya lama, merasakan air mata menitik begitu saja. Ia lalu mengecup pipi anaknya lembut, seakan ingin mengabadikan rasa syukur yang meluap dalam hatinya. Kavindra yang masih berbaring di sisi lain juga ikut terbangun. Ia membuka mata, lalu menoleh pada Sarah yang tengah mengusap kepala putra

