Kavindra baru saja turun dari ruang kerja di lantai atas ketika matanya menangkap sosok Alvano yang duduk di ruang tamu dengan wajah terlipat gusar. Kedua tangannya menopang kepala, dagunya bertumpu di jari, sementara di meja depan terdapat beberapa kertas coretan dan sebuah kotak kecil berisi sisa cookies buatan sendiri yang tampak gagal. Dapur rumah bahkan masih menyisakan aroma mentega yang sedikit gosong. Melihat anaknya seperti itu, Kavindra mengerutkan keningnya, lalu berjalan pelan mendekat. “Ada apa ini, Van? Kok muka kamu kayak lagi mikirin utang perusahaan?” Alvano mendongak pelan, matanya tampak murung. “Papa…” ucapnya pelan, seolah ragu untuk bicara. Kavindra duduk di sofa sebelahnya, menatap anak laki-lakinya yang kini sudah berusia tujuh belas tahun. “Kamu kenapa? Biasanya

