Hari Senin pagi itu suasana sekolah terasa lebih ramai dari biasanya. Banyak murid berkerumun di papan pengumuman, beberapa membicarakan sesuatu dengan antusias. Clara datang lebih awal, seperti biasa, dan duduk di bangku taman tempatnya dan Alvano sering menunggu bel masuk. Tapi pagi itu, Alvano belum muncul. Ia menatap halaman depan sekolah sambil menghela napas kecil. Biasanya, Alvano sudah muncul dengan senyum lebar dan sapaan riang. Tapi kali ini, bahkan sampai bel hampir berbunyi, lelaki itu belum juga datang. Clara mulai resah. Hingga tiba-tiba, suara langkah ramai terdengar dari gerbang. Clara menoleh dan melihat Alvano berjalan masuk… tapi tidak sendiri. Di sampingnya ada seorang gadis baru dengan rambut hitam panjang tergerai rapi, wajahnya cantik dan penuh percaya diri. Ia men

