Hari itu, suasana sekolah terasa berbeda. Tak ada lagi tawa riuh di lorong, tak ada suara Clara yang biasanya terdengar lembut menyapa semua orang. Meja Clara di kelas sudah kosong—bersih, rapi, tanpa selembar pun kertas tertinggal. Di atasnya hanya ada satu amplop kecil dengan tulisan tangan rapi yang jelas dikenali semua orang: **“Untuk Alvano.”** Saat Alvano tiba di kelas, ia langsung tahu ada sesuatu yang salah. Tidak ada lagi senyum Clara di bangkunya, tidak ada suara lembut memanggil namanya di pagi hari. Semua teman menatapnya dengan tatapan iba. Beberapa bahkan berbisik pelan, tapi tak satu pun berani menyampaikan langsung. Ia melangkah perlahan menuju meja Clara, lalu mengambil amplop itu. Tangannya bergetar saat membukanya. Tulisan itu pendek, tapi setiap katanya seperti mengh

