Bab 188

3144 Words

Pagi itu suasana rumah Raisa dan Ardi dipenuhi aroma wangi sarapan yang baru matang. Ayam goreng, sayur asem, dan sambal buatan Raisa terhidang di meja makan panjang yang penuh dengan tawa dan kehangatan keluarga. Namun di balik tawa itu, ada sesuatu yang menggantung di udara—rasa enggan, rasa berat di hati orang tua yang sudah menua dan tak ingin berpisah lagi dengan cucu kesayangan mereka. Raisa menatap Alvano yang sedang makan dengan lahap sambil sesekali berceloteh pada Kakeknya, Ardi. Ia tak berhenti tersenyum melihat wajah cucunya yang ceria, polos, dan penuh kehidupan. “Cucu Mama satu ini ya, tiap kali makan pasti nambah terus,” ucap Raisa sambil terkekeh, namun matanya tampak lembut, seolah ingin merekam momen itu dalam ingatan. Ardi yang duduk di ujung meja ikut tertawa kecil. “

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD