Sudah dua minggu sejak Sinta resmi bekerja di perusahaan milik Kavindra. Suasana kantor mulai terasa terbiasa dengan kehadirannya. Ia bekerja cepat, tanggap, dan teliti. Hampir semua karyawan lain memuji kemampuannya menyusun laporan, menjadwalkan meeting, hingga mengatur dokumen penting tanpa perlu banyak arahan. Bagi sebagian besar orang, Sinta terlihat seperti sekretaris ideal. Namun bagi dirinya sendiri, setiap hari di kantor justru terasa menjadi ujian batin. Sinta duduk di meja kerja tepat di luar ruangan direktur. Dari posisinya, ia bisa melihat langsung pintu kaca tempat nama besar *Kavindra Leonardo* tertulis rapi. Setiap kali pria itu lewat, mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung, postur tinggi dan wibawa dingin, Sinta selalu kehilangan fokus sejenak. Ia tidak tahu kap

