Sinta berdiri di depan meja kerja Kavindra pagi itu dengan senyum yang dibuat semanis mungkin. Di tangannya, ada secangkir kopi hitam hangat yang baru saja ia buat sendiri di pantry. Aroma kopi itu memenuhi ruang kerja yang besar dan modern itu, menembus wangi khas parfum yang biasa dipakai Kavindra. Lelaki itu sedang sibuk membaca laporan keuangan di laptopnya, kemeja biru lautnya terlihat rapi dengan lengan yang digulung sampai siku, memperlihatkan jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. “Pak, ini kopi hitam kesukaan Bapak. Saya buatkan sendiri,” ucap Sinta dengan nada lembut. Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar, Kavindra hanya berkata pendek, “Letakkan saja di meja.” Sinta tersenyum kecil meski hatinya sedikit kecewa. Ia meletakkan kopi itu pelan-pelan di meja

