Bab 185

3002 Words

Hari itu, langit begitu cerah. Burung-burung beterbangan di atas halaman sekolah, dan suara riuh teman-teman yang baru saja keluar dari kelas terdengar di mana-mana. Di antara keramaian itu, seorang anak laki-laki berdiri canggung di dekat taman belakang sekolah yang jarang dilewati orang. Seragam putihnya masih rapi, dasinya terikat sempurna, tapi kedua tangannya berkeringat menahan gugup. Itulah Alvano — putra tunggal dari Kavindra dan Sarah — yang siang itu sedang menunggu seseorang dengan wajah memerah dan jantung berdebar kencang. Ia menggenggam sesuatu di tangannya: setangkai mawar merah yang tadi pagi diam-diam ia ambil dari taman belakang rumah mereka. Mawar itu, dengan kelopaknya yang sempurna dan aroma lembutnya, sengaja ia petik sendiri untuk satu alasan — hari ini, ia akan men

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD