Pagi itu udara terasa segar, embun masih menempel di ujung dedaunan halaman belakang rumah keluarga Kavindra. Burung-burung kecil yang sering datang ke taman belakang terdengar berkicau riang, seolah ikut menertawakan sesuatu yang sedang terjadi di antara bunga-bunga mawar putih kesayangan Sarah. Di antara deretan bunga yang tumbuh rapi, tampak sosok anak laki-laki berusia tiga belas tahun sedang jongkok dengan penuh konsentrasi. Tangan kecilnya hati-hati sekali saat memetik satu tangkai demi satu tangkai bunga mawar yang sudah mekar sempurna. Wajahnya serius, seolah sedang melakukan misi rahasia. Kavindra berdiri tidak jauh dari sana, di balik kaca jendela ruang tamu. Ia menatap pemandangan itu dengan ekspresi yang sulit ditahan—antara geli, kagum, dan takut. Ia tahu benar bunga-bunga i

