Sarah yang sedang sibuk di dapur pagi itu sempat menghentikan aktivitasnya ketika mendengar suara langkah kaki putranya tergesa menuruni tangga. Alvano, dengan wajah sedikit panik tapi penuh tekad, langsung membuka lemari dapur mencari sesuatu sambil memanggil mamanya. “Ma, boleh tolong buatin bubur ayam enggak? Yang pakai suwiran ayam dan sedikit kuah jahe ya,” pintanya tanpa banyak basa-basi. Sarah menatap anak lelakinya dengan dahi berkerut, heran. “Bubur ayam? Pagi-pagi begini kamu enggak biasanya minta bubur, Van. Kamu lagi enggak enak badan?” tanyanya sambil meletakkan spatula. Alvano menggeleng cepat. “Bukan buat aku, Ma. Buat Clara. Dia sakit, dari tadi pagi enggak masuk sekolah. Aku barusan ke rumahnya, Tante Melati bilang dia demam tinggi dan enggak nafsu makan.” Senyum kecil

