Alvano memilih warung kecil di tepi danau yang atapnya dari anyaman bambu. Warung itu tidak mewah, tetapi suasananya hangat, dengan angin sepoi-sepoi yang langsung membawa aroma daun basah dari pepohonan sekitar. Clara duduk di bangku kayu, menatap danau yang memantulkan langit biru pucat, lalu memalingkan wajahnya ketika Alvano datang dengan dua piring makanan. “Aku sudah bilang aku bisa bawa sendiri,” kata Clara sambil terkekeh melihat Alvano membawa piring seperti seorang pelayan restoran mewah. “Tidak apa-apa,” jawab Alvano sambil duduk di depannya. “Kalau aku bisa memanjakan kamu, kenapa tidak?” Clara tersipu. “Tapi kamu tidak usah sampai begini juga.” “Aku mau,” jawab Alvano cepat. “Biar kamu tahu kalau aku serius.” Clara meraih sendok, tetapi Alvano langsung menarik piringnya s

