Sarah langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika mendengar cerita itu, seolah kabar yang baru keluar dari mulut putranya terlalu manis untuk dilewatkan. Kavindra yang sedang duduk di sofa sambil memeriksa beberapa berkas pekerjaan langsung berhenti, mengangkat wajahnya, dan menatap putranya dengan alis yang terangkat tinggi. Keduanya memandang Alvano seperti sedang melihat pemandangan paling langka di dunia—bocah itu tersenyum. Senyum malu, tapi jelas, dan itu cukup membuat ruang keluarga dipenuhi aura heboh tanpa perlu musik tambahan. “Jadi… Clara beneran nerima?” Sarah akhirnya bertanya dengan suara penuh tekanan emosional yang nyaris meledak. Alvano mengangguk kecil, pipinya memerah, telinganya panas, tapi senyum itu tetap muncul meski dia berusaha keras menahannya. “Iya…”

