Hari-hari di taman kanak-kanak itu perlahan mulai berubah. Setelah melalui masa-masa sulit di mana ia sering menangis karena ejekan teman-teman, kini Alvano punya alasan untuk tersenyum setiap pagi. Alasannya sederhana: seorang gadis kecil bernama Clara. Clara baru pindah ke sekolah itu dua minggu lalu. Rambutnya panjang dikuncir dua, wajahnya ceria, dan senyumnya hangat. Sejak hari pertama ia masuk, ia sudah langsung memperhatikan Alvano yang duduk sendirian di sudut taman bermain, memegang kotak pensilnya erat-erat seperti takut ada yang merebut lagi. Ketika guru menyuruh anak-anak membentuk kelompok untuk bermain, Clara berjalan langsung ke arah Alvano tanpa ragu sedikit pun. “Kamu mau main sama aku?” katanya sambil menatap dengan mata bening. Alvano sempat terdiam. Ia tidak biasa di

