Pagi itu udara terasa hangat dan lembut, matahari baru saja menembus tirai putih di kamar keluarga itu, memantulkan cahaya keemasan di dinding berwarna krem. Di ruang tengah, suara tawa kecil bergema—suara khas Alvano yang kini sudah tumbuh besar, sudah lima tahun usianya. Tubuh mungilnya kini tampak lebih tinggi, rambut hitam legamnya tumbuh lebih tebal, dan sorot matanya begitu hidup, seolah menyimpan semesta kecil di dalamnya. Namun di balik tawa kecil itu, ada satu sosok yang duduk di sofa sambil memegang cangkir teh hangatnya dengan tangan bergetar—Sarah. Matanya berkaca-kaca sejak tadi. Tatapannya tak lepas dari Alvano yang tengah mencoba mengenakan seragam TK berwarna biru muda, dengan lambang sekolah kecil di saku kirinya. Kavindra sedang membantu merapikan dasi mungil di leher p

