Pelukan ibunya menjadi satu-satunya tempat Alvin menahan tubuhnya yang mendadak terasa lemah. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, semua potongan masa lalu yang selama ini terasa kabur mulai tersusun menjadi satu cerita utuh. Cerita yang pahit. Cerita yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. "Ma... Alvin harus bagaimana, Ma?" suaranya serak, hampir pecah. "Alvin tidak bisa hidup tanpa Syafira. Apalagi melihat Syafira hidup dengan pria lain. Alvin gak kuat, Ma... melihat anak kandung Alvin diasuh pria lain, sedangkan Alvin sendiri masih sangat mampu untuk mengasuhnya." Ibunya mengusap punggungnya perlahan, seperti ketika Alvin masih kecil. "Tenang dulu, Nak..." "Tapi ini tidak adil, Ma..." Alvin mengangkat wajahnya. Matanya merah, napasnya masih tidak teratur. "Selama ini A

