Pedih

1466 Words

Leonel berdiri beberapa langkah dari mereka. Wajah kecil itu pucat. Matanya membesar, bukan karena mengerti, tapi karena suasana yang berubah terlalu cepat. "Papa... kenapa teriak?" Seketika ruangan terasa sunyi. Alvin yang tadi berapi-api, mendadak seperti ditarik kembali ke bumi. Tangannya masih menggenggam jemari Syafira, namun perlahan dia lepaskan. Dia berlutut di depan Leonel, memeluk tubuh kecil itu erat. "Papa nggak marah sama kamu, Sayang." suaranya berubah lembut, sangat lembut. "Papa cuma lagi ngomong agak keras. Maafin Papa, ya?” Tatap Alvin penuh penyesalan. “Papa Haris gak pernah pake suara keras kalau ngomong sama mama atau siapapun. Papa Haris gak pernah marah…” celoteh Leonel dengan polos seolah dia sedang mengingat betapa baiknya Haris baginya. “Iya, Sayang. Papa mi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD