Elang terdiam sesaat, mencoba mengembalikan wibawanya yang baru saja runtuh karena kecerobohan kecil tadi. Dia berdeham pelan, menstabilkan tiang itu, lalu melangkah perlahan keluar dari bayang-bayang menuju ke arah cahaya lampu di samping ranjang. "Maaf," ucap Elang pendek, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya. Salsa mengusap sisa air matanya dengan cepat, lalu berdiri menyambut suaminya. "Bapak sudah dari tadi di situ?" Elang tidak langsung menjawab pertanyaan Salsa. Dia melangkah mendekat ke sisi ranjang kakek Sanusi, menatap pria tua yang masih belum sadarkan diri itu dengan pandangan yang sulit dibaca. Gengsi Elang masih setinggi langit, namun melihat kerapuhan Salsa dan perjuangan hidup kakeknya, sesuatu dalam diri pria kaku ini melunak. Tanpa diduga, Elang membungku

