Salsa yang merasa kepalanya hampir pecah melihat adu otot saraf di depannya, akhirnya tidak tahan lagi. Dia meletakkan sendoknya dengan suara denting yang cukup keras di atas mangkuk bubur yang sudah kosong. "Aduh, sudah, sudah! Ini kantin rumah sakit, bukan arena debat terbuka fakultas hukum atau simposium kedokteran," potong Salsa dengan nada yang sengaja dibuat ceria namun tetap saja terdengar garing. "Dokter Dirga mau pesan kopi, kan? Dan Bapak ... ah, maksudnya Mas Elang mau pesan kopi lagi?" "Bagaimana kalau kalian berdua pesan kopi masing-masing lalu minum di meja yang berbeda? Supaya tensi di sini tidak lebih tinggi dari tensi kakek saya." Salsa mencoba tertawa kecil, meski sebenarnya dia ingin sekali menghilang dari sana. Sayangnya, lelucon spontan Salsa sama sekali tidak

