Bab 142

3427 Words

Malam semakin larut. Lampu kamar hotel diredupkan, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu meja di sudut ruangan. Mark duduk di kursi dekat jendela, menatap keluar, melihat kilau kota Seoul yang masih hidup meski jam sudah melewati tengah malam. Pikirannya tidak tenang. Ia menoleh ke arah ranjang. Giana tertidur setengah, selimut ditarik sampai d**a. Wajahnya masih terlihat pucat meski napasnya sudah lebih teratur. Setiap beberapa menit, Giana bergerak kecil, seolah perutnya masih terasa tidak nyaman. Mark berdiri pelan, mendekat ke ranjang. Ia menatap istrinya lama, rahangnya mengeras. “Aku nggak mau ambil risiko,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Ia mengambil ponsel, duduk kembali di sofa, lalu mulai membuka jadwal penerbangan. Jakarta–Seoul. Seoul–Jakarta. Matanya m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD