Bab 76

943 Words

Awalnya Giana mengira itu hanya kebetulan. Jakarta memang tidak kecil, tapi juga tidak cukup besar untuk sepenuhnya menghindari orang-orang yang sengaja ingin ditemui. Namun setelah pertemuan ketiga, keempat, dan kelima, Giana mulai menyadari satu hal yang membuat tengkuknya terasa dingin. Yaksa tidak muncul secara tidak sengaja. Pagi itu Giana duduk di sebuah kafe kecil dekat kampus. Tempat itu biasanya sepi, hanya dipenuhi mahasiswa yang sibuk dengan laptop dan kopi murah. Giana memilih duduk di sudut, punggungnya menghadap jendela, berusaha menyelesaikan tugas presentasi sambil menunggu kelas berikutnya. Ia baru saja mengangkat cangkir ketika sebuah bayangan jatuh di hadapannya. “Sendirian?” Suara itu membuat Giana membeku sesaat. Ia mengangkat wajahnya perlahan, dan seperti dugaa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD