Seminggu berlalu dengan sangat lambat di rumah sakit. Umi sudah harus kembali ke pesantren karena urusan yang mendesak, sementara Bu Lastri sudah mulai tenang meski wajahnya masih menyimpan duka yang dalam. Sore itu, suasana kamar rawat Baskara sangat sunyi, hanya ada bunyi detak jantung dari monitor yang mengisi ruangan. Bu Lastri duduk di samping ranjang, menatap wajah putranya yang masih terpejam dengan selang ventilator yang terpasang. "Sena," panggil Bu Lastri, suaranya serak. "Pak Elang bilang berkas pemalsuan dokumen itu sudah lengkap. Benar Sarah yang buat seolah-olah Baskara yang korupsi?" Sena mengangguk. "Benar, Bu. Semua dokumen yang menyudutkan Mas Baskara itu palsu. Sarah yang menyusun semuanya." "Ular!" maki Bu Lastri, tangannya gemetar. "Sudah merusak nama baik ana

