Sena kembali masuk ke dalam kamar rawat dengan langkah yang tidak tenang. Tangannya masih gemetar menggenggam ponsel yang baru saja ia simpan. Elang menutup telepon secara sepihak untuk segera menuju kantor polisi, meninggalkan Sena dalam ketidakpastian yang mencekam. Bu Lastri, yang sejak tadi duduk di samping ranjang Baskara, menyadari perubahan wajah menantunya. Ia bangkit berdiri, lalu meraih dan memegang tangan Sena yang terasa dingin. "Kenapa, Sena? Wajahmu pucat sekali. Ada apa?" tanya Bu Lastri cemas. Sena hanya diam, lidahnya terasa kelu. Pikirannya berkecamuk. Haruskah ia bercerita sekarang? Di satu sisi, ia tidak ingin menambah beban pikiran mertuanya yang baru saja lega melihat Baskara sadar. Namun di sisi lain, berita ini terlalu besar untuk ia simpan sendiri. Tepat

