Suasana di dalam kamar rawat inap VIP itu mendadak senyap. Suara mesin monitor jantung menjadi satu-satunya penanda kehidupan di antara tiga manusia yang sedang bergulat dengan perasaannya masing-masing. Baskara masih menatap Sena. Matanya yang sayu tidak berkedip. Genggaman tangannya pada jemari Sena mengeras, seolah ia sedang berpegangan pada satu-satunya tiang yang kokoh di tengah badai. "Meninggal?" tanya Baskara. Suaranya terdengar sangat kering. Sena mengangguk pelan. Ia tidak berani memutus kontak mata dengan suaminya. "Benar, Mas. Pak Elang baru saja memberi kabar. Sarah ditemukan tidak bernyawa di sel tahanannya sepuluh menit yang lalu," jawab Sena. Baskara memejamkan mata. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan kasar. Dadanya terasa sesak, bukan karena paru

