Sarah semakin mendekat, dadanya naik-turun dengan napas yang memburu. Matanya yang gelap karena obsesi menatap Baskara dengan lapar. "Aku rindu sentuhanmu, Bas. Kamu tidak tahu betapa menyiksanya rindu ini, terutama semenjak kamu menikah dengan wanita itu. Aku sangat cemburu sampai rasanya ingin gila!" Sarah tertawa getir, tangannya mencengkeram lengan Baskara kuat-kali ini bukan sekadar rayuan, tapi ada kemarahan di sana. "Tapi untuk apa, Bas? Untuk apa istrimu yang sok suci itu mengirimi aku foto kamu yang katanya habis bercinta dengannya?" Sarah menatap Baskara dengan mata melotot. "Apa maksudnya? Dia mau pamer padaku, hem? Mau menunjukkan kalau dia sudah berhasil merebutmu seutuhnya?" Baskara yang tadinya sudah hampir menyerah karena terdesak ancaman, seketika menegang. Matany

