Pagi itu, atmosfer di kantor terasa begitu ganjil dan menyesakkan bagi Amelia. Udara di dalam ruangan seolah memadat, membawa aroma parfum karyawan yang justru membuatnya merasa mual. sebuah mual yang bukan lagi berasal dari hormon kehamilan, melainkan dari rasa bersalah yang kini telah membusuk dan mengakar dalam di jiwanya. Setiap langkahnya terasa seperti ia sedang menyeret kaki yang terikat rantai besi seberat berton-ton. Ia sengaja menunduk, matanya terpaku pada ujung sepatunya yang beradu dengan lantai marmer yang dingin, berusaha menciptakan dinding pertahanan agar tidak ada rekan kerja yang berani menyapa atau menatapnya lebih lama. Ia takut, jika ia berani mendongak, seseorang akan bisa membaca kriminalitas yang terpampang nyata di balik tatapan matanya yang layu. Keringat d

