Langkah kaki Bima terdengar begitu ringan, berirama sempurna dengan detak jantungnya yang berdebar kencang penuh antusiasme. Di wajahnya ada cahaya yang sudah lama tak terlihat, semacam harapan yang tumbuh diam-diam, lalu mendadak menemukan alasan untuk berani hidup kembali. Sejak keluar dari ruang Dokter Surya, sorot matanya berubah. Ada kegembiraan yang ditahannya dengan susah payah, ada doa-doa lama yang mungkin kembali berani ia ucapkan di dalam hati. Setiap hembusan napasnya terasa seperti hembusan angin musim semi yang membawa harapan baru, sementara tangannya tak pernah lepas merangkul bahu Amelia dengan posesif. Pelukannya erat, hangat, seolah takut istrinya akan lenyap tertiup angin atau hancur berkeping-keping hanya karena ia melepaskan rengkuhan itu sedetik saja. Bagi Bim

