Perasaan tidak enak itu semakin menekan d**a Juna. Ia menatap layar ponselnya lama, jemarinya bergerak cepat menekan nomor Lili. Sekali, tidak diangkat. Dua kali, tetap nihil. Juna mengusap wajahnya kasar. “Kenapa gak diangkat sih, Li…” gumamnya pelan. Ia melirik jam tangan sekali lagi. Jam kuliah Lili memang seharusnya belum selesai, tapi panggilan sebanyak itu jelas bukan tanpa alasan. Juna melangkah keluar dari ruangan dengan wajah berubah tegang. Irma yang sedari tadi menunggu di luar langsung menoleh. “Kenapa, Jun?” Wanita itu menatap Juna intens. “Gak apa-apa,” jawab Juna singkat. “Aku keluar bentar ya.” Juna segera melanjutkan langkah, pria itu berjalan dengan cepat. “Keluar?” Irma terlihat sedikit terkejut. “Bukannya masih jam kerja?” Suara wanita itu menghentikan lang

