"Dewa, ayo masuk!" ajak Inne lagi karena sedari tadi Dewa hanya terdiam di depan pintu. "Kita mau ngapain, Tan?" Dewa terdengar gugup. Jujur saja ada rasa takut yang menerpa dadanya, ia tahu ini cukup intens dari sekedar hubungan bos dan sopir. "Nanti kita bahas di dalam." Inne menarik tangan Dewa dan berhasil membawa pria itu masuk ke dalam hotel. Dewa kembali mematung ketika Inne menutup pintu hotel itu kembali. Keringat dingin mendadak membasahi kening dan pelipisnya. Padahal Inne adalah seorang perempuan dan wanita itu terlihat anggun, bukan seorang kriminal. Tapi, entah kenapa rasa takut itu muncul di hati Dewa. "Tegang banget." Inne menepuk bahu Dewa dan mengusapnya pelan. Dewa tersentak, refleks ia menoleh ke arah wanita itu. Inne tersenyum, ia membuka blazer yan

