“ASTAGA…!” Juna membanting setir sekuat tenaga. Mobil mereka bergetar hebat, ban berdecit panjang mencakar aspal. Lampu mobil dari arah berlawanan melintas hanya sejengkal dari kap depan. Semuanya terjadi begitu cepat. Beberapa detik kemudian, mobil akhirnya berhenti di bahu jalan. Mesin masih menyala, tapi tangan Juna gemetar hebat di setir. Napasnya terengah, dadanya naik turun tak beraturan. Lili membeku di kursinya. Air matanya langsung tumpah tanpa suara. “Mas…” suaranya bergetar. “Aku takut…” Juna langsung menoleh. Wajahnya pucat, matanya merah karena kantuk yang sejak tadi ia tahan. Ia meraih tangan Lili, menggenggamnya erat. “Aku bilang dari tadi kita nginep aja,” ucapnya parau. “Aku udah bilang aku ngantuk.” Juna berbicara pelan tapi tegas. Pria itu merasa kesal, tapi ia

