Dewa melangkah keluar rumah pelan-pelan, memastikan pintu tertutup rapat. Udara malam menyambut dengan dingin yang tipis, lampu teras menyala temaram. Ia duduk di anak tangga, punggungnya bersandar pada tiang, kepalanya menengadah sebentar ke langit yang gelap. Tangannya merogoh saku celana. Sebatang rokok. Korek. Klik. Api menyala, ujung rokok memerah. Dewa menghisap dalam-dalam, lalu menghembuskan asap perlahan. Dadanya terasa sesak, bukan karena rokok, tapi karena semuanya. Erika, anak di perutnya, uang, kerjaannya. Dan barusan … Juna dan Lili. “Hampir celaka,” gumamnya pelan, lebih ke diri sendiri. Ia menunduk, memijat tengkuknya. Baru satu hari, tapi rasanya hidupnya makin sempit. Setiap keputusan seperti menekan dari dua arah. Ponselnya bergetar di tangan. Nama Inne muncul

