Sosok yang sudah lama tak dilihatnya tiba-tiba berdiri tepat di hadapannya, membuat jantung Andra berdegup tak karuan. Perasaannya campur aduk, terkejut sekaligus bahagia yang tak bisa ia bendung lagi.
Tanpa pikir panjang, Andra merangkul erat wanita itu, suaranya bergetar, "Ya ampun, Sarah ... kamu benar-benar ada di sini? Apa kabar? Kenapa balik ke Indonesia tiba-tiba dan nggak kabarin aku dulu? Om dan tante juga balik?"
Sarah membalas dengan senyum lebar, matanya bersinar penuh rindu. "Aku baik, Kak. Lihat saja sekarang, bisa aku pulang, 'kan? Mama dan papa juga balik. Aku kangen banget sama kamu, Kak." Antusiasnya begitu terasa, seolah jarak dan waktu tak pernah memisahkan mereka.
"Aku juga kangen sama kamu, Sarah," balas Andra. "Tapi kenapa, kamu nggak kasih tahu aku dulu? Kapan kamu balik?"
Sarah menyikut lengan Andra pelan, dengan nada menggoda, "Kak, ini aku baru sampai sini loh. Masa nggak disuruh duduk dulu. Mau ngobrol sambil berdiri gitu?"
Tawa kecil mereka mengisi ruang itu. Andra tersenyum, lalu ia keluar dari kamar dan keduanya pun akhirnya duduk bersama di sofa depan ruangan itu, memulai percakapan yang terasa hangat dan penuh kenangan. Sementara ART yang tadi mengantar Sarah ke kamar Andra, sudah pergi meninggalkan mereka dalam kebahagiaan yang tak terduga.
"Jadi, aku mama dan papa baru balik ke Indonesia kemarin, Kak." Suara Sarah bergetar penuh semangat. "Aku sengaja nggak kasih tahu kamu, supaya bisa jadi surprise!" katanya sambil tersenyum nakal.
Andra mengerutkan kening, tapi tak kuasa menyembunyikan rasa haru. "Dasar ya, kamu. Memang suka jahil seperti itu," katanya lembut. "Padahal kalau kamu bilang dulu, aku bisa jemput kalian di bandara."
"Nggak perlu, Kak. Kata om dan tante, kamu juga sibuk, 'kan?" ujar Sarah santai, tapi kata-kata berikutnya ada sedikit kesedihan yang terpendam dalam suaranya, "Om dan Tante belum bisa balik ke Indonesia, Kak. Mereka titip salam buat kamu."
Andra menunduk sejenak, menahan rasa sedih yang tiba-tiba mencuat, lalu menghela napas dan tersenyum. "Nggak apa-apa, aku sudah biasa sendirian di rumah. Asalkan mereka sehat, itu sudah cukup buat aku bahagia." Matanya berbinar saat menatap adik sepupunya itu, jari tangannya merayap lembut mengusap rambut Sarah. "Dan sekarang, yang paling penting ... aku bisa ketemu kamu lagi."
Sarah mengangguk. "Iya, Kak. Aku juga senang banget bisa ketemu kamu lagi, setelah lima tahun kita nggak ketemu. Mama dan papa juga kirim salam buat kamu, katanya belum sempat mau ke sini."
"Iya, nggak apa-apa. Kirim salam balik ya, untuk om dan tante. Nanti kalau sempat biar aku yang ke sana," ucap Andra, kemudian berkata dengan nada penuh rasa ingin tahu, "Oh ya, kamu sekarang sudah jadi dokter, 'kan? Rencananya mau praktek di mana? Sudah urus berkas rumah sakitnya? Perlu bantuanku, nggak? Bilang saja kalau memang butuh bantuan."
"Tenang saja, beres. Kamu nggak perlu khawatir, Kak. Aku sudah urus semuanya. Besok aku langsung ke rumah sakit itu." Suara Sarah tenang tapi penuh tekad, seolah ingin meyakinkan seluruh dunia bahwa dia mampu menghadapi apa pun yang datang.
Andra menghela napas lega, senyum terbit di wajahnya. "Syukurlah. Nggak nyangka banget ya, dulu kamu masih ingusan, sekarang malah sudah jadi Dokter Bedah! Tapi sayangnya, belum punya pasangan alias masih jomblo," goda Andra sambil menatap penuh arti.
Sarah tertawa pelan, matanya menyiratkan kenangan indah. "Kata siapa, Kak? Justru aku buru-buru balik ke Indonesia karena mama dan papa sudah nggak sabar mau bahas soal perjodohanku," ujarnya sambil sedikit tersipu. "Kak Andra ingat 'kan, aku pernah cerita tentang teman masa kecil yang sudah dijodohkan sama aku? Tetangga waktu aku dan orang tuaku masih tinggal di Bandung dulu. Lama nggak ketemu, dia makin tampan dan nggak bisa buat aku nolak perjodohan ini, Kak. Yang lebih penting, kami pernah dekat. Ya ... walaupun sudah lama nggak ketemu, jadi agak canggung. Tapi aku yakin kok, nggak susah buat kami untuk saling dekat lagi." Ia menatap Andra dengan mata berbinar, seolah menunggu reaksi.
Cukup merasa terkejut, kemudian Andra terkekeh, suara riangnya pecah di udara, "Oh, ya? Ya ampun ... jangan-jangan ini tanda-tanda seorang kakak akan di langkahin nikah sama adiknya."
Keduanya tertawa lepas, tawa yang mengalir hangat dan penuh harapan, menepis segala kekhawatiran yang sempat merayapi hati mereka.
***
Bertemu dan bekerja sama dengan Ziva biasanya selalu menjadi alasan bagi Andra untuk tersenyum. Meski hanya obrolan tentang pekerjaan dan kadang terselip candaan yang ia ciptakan sendiri, itu mengisi hari-hari yang seolah tak pernah membosankan baginya. Namun kali ini berbeda, rasa bahagia itu hilang tergantikan oleh kekhawatiran yang membelit erat di d**a. Mereka harus berangkat ke Kota X, terjun langsung ke lubang gelap pada sebuah kasus yang sedang mereka tangani. Semua bukti sudah terkumpul rapi di tangan, menuntut tindakan tegas agar kebenaran segera terungkap dan ditindaklanjuti sesuai prosedur. Namun mereka tahu, risikonya terlalu besar.
Andra menatap Ziva dengan sorot mata penuh waspada. Ia tahu, bahaya bisa mengintai di balik jalan berdebu itu, siap menelan siapa saja yang lengah. "Kak, lebih baik kamu ikut mobil aku saja. Aku ingin memastikan kalau kamu selalu aman," katanya serius, nada suaranya tak menyembunyikan rasa tanggung jawab yang membebani bahunya.
Namun Ziva menggeleng, mencoba meredam rasa khawatir itu. "Terima kasih, tapi tidak perlu. Aku bisa bawa sendiri," tolaknya, tetap tenang.
Andra tak mau menyerah. "Ayolah, Kak. Ini demi keselamatan kamu juga. Lagi pula, kalau kita bersama, semuanya akan jadi lebih gampang. Tim-ku juga akan ikut, pakai mobil terpisah. Memangnya kamu tega, membiarkan aku berangkat sendirian, Kak? Mentang-mentang jomblo, malah terlihat jelas," rengek Andra, senyum tengilnya kembali muncul, berusaha mencairkan ketegangan yang menggantung di udara.
Ziva mengerutkan kening, napasnya keluar dengan dingin. "Bisa-bisanya ya, kamu malah bercanda dalam keadaan seperti ini?" geramnya.
Andra mencondongkan badan, suaranya berbisik pelan di telinga Ziva, "Jangan bilang sama siapa-siapa ya, Kak. Aku seperti ini cuma di depan kamu. Percayalah, kamu itu spesial."
Berdekatan dengan Andra dan mendengar kata-kata gombal itu, membuat jantung Ziva lagi-lagi berdetak tak beraturan. Dia tak tahu kenapa, tapi sulit untuk dikontrol. Namun, ia mencoba untuk bersikap biasa saja. "Ya sudah, aku ikut kamu saja, Ipda Andra. Lumayan, hemat energi dan hemat bensin," ucapnya sambil menyelipkan candaan yang jarang keluar dari bibirnya.
Andra membalas dengan senyum yang mengembang, matanya bersinar penuh arti. "Ternyata ... Kak Ziva bisa bercanda juga, ya," godanya ringan.
Ziva menarik napas dalam-dalam, menguatkan diri, lalu berkata tegas, "Ya sudah, sekarang kita mau pergi atau tidak? Jangan buang-buang waktu."
"Oh, tentu saja. Ayo!" jawab Andra penuh semangat, lalu menyusul Ziva yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
*
Di perjalanan, sunyi membungkus mereka, namun Andra tak betah membiarkan keheningan itu berlarut-larut. Ia memecah diam dengan suara lembut tapi menantang, "Kak Ziva, kamu nggak lupa sama janjimu, 'kan?"
Ziva menoleh, dahinya mengkerut saat menatap Andra, merasa bingung.
Walaupun dari mulut Ziva tak keluar kata apapun, namun Andra mengerti jika itu adalah sebuah pertanyaan. "Kamu pasti nggak lupa 'kan, Kak, sama kesepakatan kita waktu itu? Setelah kasus ini selesai, kita berdua akan berkencan," katanya dengan santai.
Terkejut. Mata Ziva terbelalak, menatap tajam ke arah Andra yang tampak tersenyum penuh arti. "Kesepakatan? Maksudmu kesepakatan sepihak yang kamu buat sendiri?" Suaranya bergetar, menahan kesal yang bersemayam dalam hatinya.
"Siapa bilang kalau itu kesepakatan sepihak? Waktu itu, aku ajak makan malam romantis dan kamu menolak. Itu artinya, kamu setuju berkencan denganku setelah kasus ini selesai." Andra tersenyum sumringah, nada bicaranya penuh kepercayaan diri. "Rasanya, aku sudah nggak sabar lagi, Kak."
Ziva mengangkat tangan, nada bicaranya tegas, mengandung sedikit ancaman, "Kalau kamu masih membicarakan soal itu, lebih baik sekarang kamu berhenti. Aku ikut mobil di belakang saja!"
Andra menatap sekilas, penuh harap, mencoba mengurangi ketegangan. "Eh, jangan begitu, Kak. Ya sudah, oke. Tapi nanti kita bahas lagi, ya?"
Ziva tak menggubris, ia malah membuang muka, dingin tapi tak juga langsung menolak.
Hingga tiba-tiba, suara yang pilu memecah keheningan itu, "Aduh ... sakit!" Andra merintih, memegangi dadanya, wajahnya berubah pucat.
"Kamu kenapa? Apa yang terjadi?" Ziva terkejut, amarahnya seketika berubah menjadi kepanikan.
Bersambung ...