Bab 154.-3

646 Words

Beberapa detik kemudian sepasang mata Kansa terbuka lebar. “Suster … Suster … pakde saya merespon!” Kansa berteriak seraya mengangkat pandangan mata, menatap wajah pakdenya yang masih belum membuka matanya. Tapi, cengkeraman jari itu masih terasa. “Bagaimana?” Perawat yang berjaga di dalam ruangan itu, berlari menghampiri. “Lihat jari telunjuk pakde, Suster. Masih terasa cengkeramannya.” “Saya panggil dokter dulu.” Lalu perawat itu berbalik dan berlari menjauh. Air mata Kansa kembali menetes. Kali ini Kansa menatap sang pakde dengan sudut bibir terangkat. “Pakde mendengarku, kan? Bangun ya, pakde. Kita pergi dari sini. Pakde mau ke pondok pesantren, kan? Ayo bangun, Pakde.” Napas Kansa tersengal saat menahan isak tangis yang nyaris lolos. Tenggorokannya sampai sakit. Tak lama kemudian

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD