Weekend pagi dan ujan baru saja reda. Aroma tanah basah menyelimuti taman kecil di belakang rumah Danadyaksa Residence—rumah yang kini benar-benar menjadi milik mereka berdua. Bukan lagi sekadar tempat tinggal, bukan lagi sekadar kontrak... tapi rumah, dalam makna paling utuhnya. Arcelia berdiri di ambang pintu kaca yang menghadap ke taman, mengenakan sweater tipis dan celana rumah longgar. Rambutnya diikat setengah, dan wajahnya terlihat lebih damai dari biasanya. Tangannya menggenggam mug cokelat panas, uapnya membumbung, membingkai wajahnya yang berseri. Di baliknya, suara langkah kaki mendekat. Hangat. Terbiasa. Membuat hatinya tenang. “Apa kamu sedang menikmati jadi Nyonya Danadyaksa sepenuh waktu?” suara berat Dante terdengar, rendah dan lekat di telinganya. Arcelia menoleh sedik

