Tiga puluh menit berlalu. Jarum jam bergerak lambat, dan setiap detik terasa seperti siksaan bagi Naina. Belum ada tanda-tanda dari suaminya yang menghubunginya. Sementara di depannya Davina tampak seakan ingin menertawakan dirinya yang bukan menjadi prioritas Chandra, meski berstatus istri sah dan satu-satunya dibandingkan dengan Livia yang merupakan sahabat dekat suaminya. Dari seberang meja, Davina duduk santai, sudut bibirnya melengkung dalam senyum tipis yang penuh arti, seolah menikmati kegelisahan yang melanda Naina. "Kayla sepertinya mulai menjauhimu, ya?" ucap Davina tiba-tiba, memecah kesunyian yang tegang. "Mungkin karena dia melihat kamu mendorong Livia." "Anak kecil tidak akan mengerti apa yang terjadi pada orang dewasa." Davina menyunggingkan senyum yang semakin melebar.

