Angin malam di atap apartemen tua itu berhembus semakin kencang, membelai wajah Lily dengan dingin yang menusuk, namun dingin itu tak sebanding dengan kekakuan yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhnya. Di hadapannya, Ethan masih berdiri dengan kotak kecil berisi cincin perak sederhana itu. Pria itu, sang penguasa korporat yang baru saja meruntuhkan d******i lawan-lawannya di dewan direksi, kini tampak begitu rapuh, menanti sebuah kata yang seharusnya menjadi puncak dari seluruh perjuangan mereka. Namun, alih-alih pelukan hangat atau anggukan cepat yang penuh air mata kebahagiaan, yang menyelimuti suasana adalah keheningan yang menyesakkan. Lily menatap cincin itu, lalu beralih menatap mata Ethan yang penuh dengan harapan tulus. Jantungnya berdegup kencang, namun bukan karena euforia

