Frans duduk bersila di atas karpet tebal kamar hotel yang luas itu, sementara puluhan keping lego berwarna-warni memenuhi lantai seperti kota kecil yang baru saja dibangun oleh tangan-tangan mini dewa kreatif. Fabian sedang sibuk menyusun menara aneh setinggi dadanya yang tampak miring ke kanan namun tetap dia banggakan. “Papa, lihat ini! Ini markas rahasia pahlawan aku!” katanya sambil memegang dua lego merah yang dia jadikan ‘penjaga’. Frans mengangguk sambil tersenyum, berusaha seolah mengerti arsitektur unik putranya. “Wah… markas rahasia ya? Kenapa bentuknya miring begini?” Fabian menjawab mantap, “Supaya musuh bingung, Papa. Kalau lurus nanti gampang ditebak.” Frans tertawa kecil. “Logika yang… kreatif.” Sementara itu di tempat tidur besar di belakang mereka, Celine bersandar san

