Fabian duduk bersila di lantai ruang tengah, deretan robot mainannya berjajar rapi membentuk formasi perang. Tangannya kecil tapi cekatan, menggerakkan satu robot besar berwarna merah dengan suara efek yang ia buat sendiri. Mulutnya mengeluarkan bunyi ledakan, tabrakan, dan perintah-perintah perang versi anak lima tahun yang imajinasinya tidak pernah habis. Ruang tengah terasa hangat dan tenang. Televisi menyala tanpa suara, hanya menampilkan gambar bergerak yang tidak benar-benar diperhatikan siapa pun. Fabian terlalu fokus dengan dunia robotnya. Dunia di mana semua hal masuk akal, semua punya fungsi, dan tidak ada aturan aneh seperti mencampur makanan yang seharusnya tidak dicampur. Namun ketenangan itu terusik ketika langkah kaki Mama terdengar dari arah dapur. Fabian tidak langsung

