Celine duduk di sofa, kedua tangannya menempel di perutnya yang mulai buncit. Malam itu, rumah terasa hening kecuali suara kipas angin yang berputar perlahan. Ia menutup mata sebentar, menikmati keheningan yang damai, ketika tiba-tiba perutnya bergerak. Seketika, Celine meringis pelan, kaget oleh tendangan kecil yang begitu kuat dari dalam rahimnya. Ia tersenyum, mengusap perutnya dengan lembut. “Hai, Nak… kau sudah tidak sabar ya untuk melihat dunia?” bisiknya sambil mencondongkan tubuh ke arah Frans yang duduk di sampingnya. Frans menatapnya, tersenyum hangat, tangannya ikut menyentuh perut Celine. “Cel… lihat itu… dia menendang lagi. Sepertinya anak kita penuh semangat dan penasaran,” katanya sambil menepuk lembut perut istrinya. Celine tertawa kecil, membiarkan rasa haru dan bahagia

