Bab 81

2395 Words

Lorong rumah sakit siang itu terasa sejuk dengan aroma antiseptik yang khas. Lampu-lampu putih di langit-langit memantulkan sinar lembut di lantai mengilap. Frans berjalan di sisi Celine, menggenggam tangan istrinya yang kini tampak lebih tenang dibandingkan kunjungan pertamanya beberapa minggu lalu. Namun, matanya masih memancarkan antusiasme yang sama—campuran gugup dan bahagia yang selalu muncul setiap kali mendengar detak jantung kecil di dalam perutnya. “Sayang, aku penasaran banget. Kira-kira bayi kita udah gede belum ya dari yang kemarin?” kata Celine pelan, matanya berkilau penuh semangat. Frans tersenyum lembut. “Pasti udah tambah besar. Kamu aja udah makin sering makan es krim jam dua pagi.” Celine mencubit lengan suaminya pelan. “Itu bukan salahku! Bayi kita yang minta, aku c

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD