Bab 135

1747 Words

Pagi itu di Hokkaido seharusnya menjadi pagi yang cerah, penuh rencana untuk berjalan-jalan di area sekitar resort, menikmati salju tipis yang mulai turun perlahan, dan melihat Fabian bermain dengan penuh tawa. Namun, semua itu berubah dalam sekejap saat Celine bangun dan mendengar suara napas putranya yang sedikit lebih berat dari biasanya. Nalurinya sebagai ibu langsung bekerja, membuat dadanya menegang sebelum ia menyentuh dahi Fabian. Dahi itu panas. Bukan sekadar hangat—panas yang menusuk rasa tenang dan langsung menimbulkan kepanikan. Celine langsung menegakkan badan, rambutnya berantakan, wajahnya pucat. Ia menepuk bahu Frans yang masih terlelap, suaminya terbangun dengan refleks begitu melihat ekspresi istrinya. Fabian meringkuk, tubuhnya terasa sedikit gemetar, pipinya memerah,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD