Jay menatap Liora dengan mata bersinar penuh antusiasme saat mereka duduk di sofa ruang tamu apartemennya di Jakarta. Di hadapan mereka terhampar beberapa desain undangan pernikahan yang dicetak dan digambar tangan, warna-warna lembut bercampur dengan aksen emas yang membuat setiap lembar tampak elegan. Fabian duduk di lantai di dekat mereka, mainan dinosaurusnya berserakan di sekitar, sesekali ia melirik ke arah Liora dan Jay dengan rasa ingin tahu. “Liora, lihat ini,” kata Jay sambil menyerahkan sebuah lembar undangan. “Aku ingin kita mulai dari desain dulu, supaya nanti tidak terburu-buru. Aku membayangkan pernikahan kita di Februari, sekitar tiga bulan lagi, jadi persiapan harus dimulai sekarang.” Liora tersenyum, matanya menyala. “Jay… aku nggak pernah membayangkan kita bakal sedeta

