SORE ITU RUMAH FRANS DAN CELINE TENANG, tapi penuh kehangatan. Sinar matahari masuk dari jendela besar ruang tengah, membuat lantai berkilau. Di tengah-tengah ruangan, Fabian duduk manis (atau lebih tepatnya, duduk sambil gelisah setiap lima detik) dengan buku gambar barunya yang tadi baru dibeli. Anak laki-laki itu sudah mempersiapkan “studio seni”-nya sendiri: — buku gambar terbuka di lantai — krayon 48 warna tersebar seperti gempa kecil — dua stiker dinosaurus menempel di kaosnya — dan mulutnya komat-kamit seolah sedang baca mantra Celine mengikat rambutnya sambil tersenyum. “Fabian, sayang… kenapa krayonnya dilempar semua ke lantai?” Fabian menoleh cepat. “Biar gampang pilih warnanya, Mama!” Frans duduk di sofa sambil memegang kopi. “Logis juga,” komentarnya sambil mengangguk-a

