“Fer … ini keren banget,” ucapnya dengan mata berbinar. “Aku baru pertama kali lihat langsung begini.” Ferdy menatapnya sebentar, lalu tersenyum miring. “Ini cuma proyek biasa, La. Kamu nggak akan suka lama-lama. Panas, berisik, penuh debu.” “Tapi justru itu serunya.” Zola menarik napas panjang, seakan ingin mengingat aroma khas proyek itu selamanya. “Kayak … dunia baru buatku.” Beberapa pekerja mulai berbisik-bisik. Tatapan mereka bergeser antara Zola dan Ferdy. Ada yang berdecak kagum, ada yang sekadar penasaran. Dan di antara kerumunan itu, sepasang mata tukang muda sedikit terlalu lama menatap Zola. Tatapan itu jelas bukan sekadar kagum—ada decak nakal, ada rasa ingin tahu yang berlebihan. Ferdy langsung menyadarinya. Rahangnya mengeras, jemarinya otomatis meraih tangan Zola. “Ayo.

