Ferdy menatapnya lama, begitu lama hingga Zola hampir salah tingkah. Cahaya matahari yang masuk melalui kaca depan menyoroti wajahnya, mempertegas garis rahang dan sorot matanya yang dalam. Lalu, tanpa kata tambahan, ia menunduk dan mengecup punggung tangan Zola. Kecupan itu tidak cepat, tapi khidmat, seakan ia baru saja mengucapkan sumpah suci. “Sampai kapan pun,” bisiknya di antara sentuhan lembut, “aku nggak akan lepasin kamu.” Zola merasakan matanya panas, tapi senyum manis merekah di wajahnya. Ia ingin membalas dengan sesuatu yang konyol, tapi tenggorokannya tercekat. Jadi, ia hanya mengeratkan genggaman tangannya. Mobil perlahan melaju keluar dari garasi, melewati halaman luas rumah keluarga Diamanta. Di kaca spion, rumah besar itu semakin mengecil, sementara dua hati di dalam sed

