Malam menuruni kota dengan diam-diam, seperti maling yang tahu persis apa yang hendak dicuri: ketenangan, harapan, dan sisa-sisa keyakinan yang belum sempat hancur sepenuhnya. Sunyi yang mengikutinya tak lagi terasa biasa. Ada sesuatu yang lebih tajam di dalamnya. Sesuatu yang menggigit diam-diam, menyisakan perih di d**a tanpa luka yang tampak. Di ruang tamu rumah kontrakan kecil itu, lampu gantung tua masih menyala, meski cahayanya meredup, kekuningan dan muram. Goyangannya pelan tertiup angin dari celah jendela, membentuk bayang-bayang panjang di dinding kusam. Ruangan itu nyaris kosong. Satu sofa kumal yang sudah sobek di beberapa bagian, satu meja kayu lapuk, dan rak plastik kecil berisi beberapa gelas dan piring—itulah seluruh isi ruang itu. Ferdy duduk sendirian di kursi rotan rey

