Parfum Mahal.

1110 Words

Begitu banyak hal ingin ia tanyakan. “Kenapa kamu makin asing?” “Siapa Jafran buatmu, lebih dari sekadar atasan?” “Kita masih bisa diselamatkan, nggak sih?” Tapi kata-kata itu menumpuk seperti batu di dadanya. Berat. Pekat. Tak bisa lolos dari mulutnya. Bahkan napasnya pun tersendat di antara tekanan emosi yang tak tertumpahkan. Ia terlalu sering menunda. Terlalu sering meyakinkan diri bahwa malam ini bukan waktu yang tepat. “Sekarang bukan waktunya,” pikirnya. Lalu ia memejamkan mata. Bukan untuk tidur. Tapi untuk menahan luka agar tak meluap. Karena di rumah ini, yang lebih sering terdengar bukan suara pertengkaran, melainkan keheningan yang tak sehat. Yang lebih menyakitkan dari perdebatan adalah... diabaikan. Dan malam pun terus berjalan, tanpa jawaban, tanpa pelukan, tanpa ta

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD