Gedung itu berdiri megah di antara deretan menara kaca lain di jantung kota. Permukaannya mendominasi langit pagi, menyilaukan siapa pun yang belum terbiasa menatap kemewahan. Pantulan cahaya dari dinding kacanya membuat Gina menyipitkan mata. Ia berhenti sejenak di trotoar, menarik napas panjang, lalu merapikan kerah kemejanya yang sedikit miring. Di telapak tangannya, keringat dingin mulai muncul. Tapi wajahnya tetap tenang. Langkah sepatu hak Gina menapaki lantai marmer dengan dentingan ringan. Bangunan itu menjulang seperti istana modern—dinding kacanya memantulkan cahaya pagi, tangga berputar di tengah lobi seperti pusaran arus yang menelan siapa pun yang masuk. Di kanan dan kiri, orang-orang lalu-lalang dengan wajah serius, pakaian rapi, dan aroma parfum yang lembut namun menusuk.

